Minggu, 25 Desember 2011

Sejarah Pohon Natal

Kebiasaan memasang pohon Natal sebagai dekorasi dimulai dari Jerman. Pemasangan pohon Natal yang umumnya dari pohon cemara, atau mengadaptasi bentuk pohon cemara, itu dimulai pada abad ke-16.

Saat penduduk Jerman menyebar ke berbagai wilayah termasuk Amerika, mereka pun kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah. Dari catatan yang ada, orang Jerman di Pennsylvania Amerika Serikat memajang pohon Natal untuk pertama kalinya pada tahun 1830-an.

Pohon Natal bukanlah suatu keharusan di gereja maupun dirumah sebab ini hanya merupakan simbol agar kehidupan rohani kita selalu bertumbuh dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain “evergreen”. Pohon Natal (cemara) ini juga melambangkan “hidup kekal”, sebab pada umumnya di musim salju hampir semua pohon rontok daunnya, kecuali pohon cemara selalu hijau daunnya.

Pemasangan pohon cemara, baik asli maupun yang terbuat dari plastik, di tengah kota atau di tempat-tempat umum pun menjadi pemandangan biasa menjelang Natal. Salah satu yang terbesar adalah pohon yang ada di RockefellerCenter di 5th Avenue New York Amerika Serikat.

Kebudayaan Batak


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan masyarakat itu, kebudayaan memperoleh tempat khusus, karena kebudayaan adalah ciri umum suatu masyarakat, sedangkan masyarakat itu sendiri merupakan pemilik suatu kebudayaan. Keseluruhan permasalahan masyarakat, tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan yang melatarbelakanginya (Ratna, 2005:23).  
Untuk mengetahui dan mengkaji corak kebudayaan, tentu dibutuhkan ilmu bantu yang relevan, di antaranya ilmu antropologi1. Sebagaimana asal-usul dari antropologi dari yaitu antropo artinya manusia, dan logos artinya ilmu pengetahuan. Dengan demikian, antropologi, khususnya antropologi budaya, adalah ilmu yang membicarakan manusia dan kebudayaannya. Kebudayaan dalam arti “keseluruhan sistem gagasan gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat, 1990:180).
Dari uraian di atas maka, antropologi budayalah yang paling relevan menjadi pisau analisis seluk beluk atau corak kebudayaan suatu kelompok masyarakat.
Dari uraian di atas maka penulis akan mengkaji tentang kebudayaan Batak.

Kamis, 22 Desember 2011


FRASA, KLAUSA, KALIMAT
STRUKTUR DAN ANALISISNYA
A. Pendahuluan
Banyak permasalahan yang ada dalam mendalami penguasaan sintaksis dan hakikatnya. Perlu pendalaman dan banyak mempraktekan dalam dunia kebahasaan. Karena ilmu sintaksis sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masih banyak orang yang belum mengetahui dan belum paham tentang makna dan hakikat sintaksis. Padahal, penggunaanya begitu dekat daengan  masyarakat Indonesia. Yaitu berkisar tentang kalimat bahasa Indonesia yang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari.
Ayoo..Liat apaan tuuu